What's Yours

Di Warung Sate

Malam itu, entah kenapa aku ingin makan di warung itu. Warung sate yang terletak di perempatan jalan dekat kantor. Padahal aku sudah kenyang, tapi masih belum kekenyangan. Untungnya.

Pemandangan di dalam warung sangat lengang, tidak ramai seperti biasanya pada jam yang sama. Kulihat bangku di barisan pertama masih penuh dengan piring berisi bumbu sate, sehingga aku memilih duduk di bangku sebelahnya.  Entah apa yang membuat aku memilih bangku barisan pertama sebagai tempat favoritku. Apakah karena letaknya yang dekat dengan jalanan sehingga membuatku leluasa melihat lalu-lalang kendaraan dengan pendaran lampunya atau karena hal lain?

Tidak lama setelah sop kambing dan jeruk hangat dihidangkan, muncullah dua sosok laki-laki. Yang satu mengenakan kaca mata dengan tubuh yang tinggi tegap dan masih muda. Satu lagi laki-laki berusia separuh baya dengan tubuh tinggi tegap dan sedikit tambun. Mereka berdua memilih tempat duduk tepat di bangku pertama yang baru saja selesai dibereskan. Damn!

Biasanya, yang datang ke warung itu adalah rekan kerja dan suami istri sehingga pertama kali aku mengira mereka adalah rekan kerja, anak buah dan atasan. Namun, setelah kudengar laki-laki muda itu berkata, “udah, ah. Liat nanti aja. Males aku ditanya-tanya gini,” kusimpulkan mereka adalah anak dan orangtua.

Ceritanya, si anak baru selesai tes seleksi kerja di sebuah BUMN besar di Indonesia. Ayahnya yang KEPO terus menghujani pertanyaan-pertanyaan yang enggan dijawab anaknya, seperti: “kira-kira perluangmu untuk diterima berapa besar?”, “yang lain dari universitas mana aja?”, “kira-kira dibandingkan dengan yang lainnya, kamu bakal berada di peringkat berapa?” Menurutku, pertanyaan itu layak diajukan kepada seorang pengamat seleksi kerja dari seorang wartawan. Jelas saja anak itu menjawab sedemikian kurang hormat. Pertanyaan itu terlalu berat untuk seseorang yang baru saja selesai seleksi dan masih membawa beban “apakah akan diterima atau tidak” di benaknya. Mungkin, jika aku adalah dia, aku sudah menggebrak meja di hadapanku tak peduli itu adalah inventaris warung.

Tapi, aku salah. Setelah pertanyaan lainnya yang bertubi-tubi, akhirnya si anak menjawab, “tapi kalo ech-ar (baca: HR)-nya bego ya paling si India yang diambil. Dan kalo menurutku sih, ech-ar-nya itu bego. Masa…” dan seterusnya sambil berkali-kali mengusap bibirnya dengan tisu. Kuhitung sepertinya ada lebih dari tiga tisu yang dipakainya. Sedangkan aku, 2 tisu saja masih kebanyakan. Bapaknya yang sedang mengusap keringat di wajah malah menanggapi kekesalan anak laki-lakinya itu dengan pertanyaan-pertanyaan lain yang semakin membuat anaknya kesal dan terbebani. Duh!

Di kasir, aku melihat seorang laki-laki, yang sepertinya dari etnis Cina mengenakan kaos hitam dan celana jeans dan berusia sekitar awal 40-an, di dekat pintu masuk. Dia memesan menu dengan keterangan, “dagingnya jangan terlalu matang, tidak pakai micin, dan bla-bla-bla.” Ya, memang boleh saja request ini-itu, tapi jangan terlalu rinci juga. Ini rumah makan, bukan restoran. Aduh…

Tidak sampai satu jam di rumah makan itu sudah membuatku geleng-geleng dua kali. Bagaimana kalau lebih lama lagi? Mungkin bisa jadi cerpen.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s